Cerita yang Akan Terus Mengalir

Cerita yang Akan Terus Mengalir

🎧 Putar melodi ini, mari berjalan perlahan menyusuri setiap kata.

Hari ini, satu kisah terukir lagi. Tak pernah ada yang meminta, tapi semua mengalir begitu saja, selayaknya air yang akan terus mengalir jika permukaan yang digenang tak seimbang. Hidupmu juga seperti itu, akan terus bergerak, entah menanjak atau menurun jalannya, yang pasti tidak akan pernah sama, yang pasti perubahan itu ada. Senang, sedih, itu semua sesuatu yang biasa. Bahkan kamu butuh semua kejadian itu. Untuk apa? Lagi-lagi tak perlu kamu tanya, kamu sendiri yang akan merasa. Coba dirasakan, dinikmati setiap jengkal prosesnya. Kamu akan paham nanti.

Tanpa kamu sadari atau mungkin sudah kamu sadari, hidupmu adalah ceritamu. Mau atau tidak menulis cerita, ceritamu sudah ada ketika tarikan nafas pertama. Mulai dari timang kasih ibumu hingga sampai saat ini cerita itu terus mengalir, menjadi satu titik sumber yang menciptakan jutaan mil panjang sungai cerita, dan akan terus bertambah panjang. Sudah berapa banyak cerita yang telah kamu ciptakan? Tak terhitung, bahkan kamu sendiri sampai lupa, bukan?

Inilah anehnya. Kita sendiri kadang tidak sadar bahwa sedang berdiri di atas panggung pentas drama besar, padahal kita menjadi tokoh utama didalam cerita itu, menjadi daya tarik disetiap ceritanya. Aneh memang, tapi kebanyakan memang seperti itu. Kita sibuk melihat cerita orang lain, sampai lupa bahwa cerita kita sendiri sedang terus berjalan.

Kadang sibuk membandingkan halaman kita dengan halaman milik orang lain. Melihat mereka yang sepertinya sudah sampai jauh, sementara kita masih berjalan entah ke mana. Melihat seseorang yang ceritanya sedang indah-indahnya, lalu diam-diam bertanya kenapa cerita kita tidak seperti itu.

Padahal bukankah setiap cerita memang punya jalannya sendiri?

Ada cerita yang cepat menemukan bahagianya. Ada yang harus berputar-putar dulu sebelum menemukan jalan pulang. Ada yang sejak awal sudah tahu hendak menuju ke mana, ada pula yang harus tersesat berkali-kali untuk akhirnya mengerti jalan mana yang harus dipilih.

Tidak perlu iri. Tidak perlu pula terburu-buru. Cerita kita tidak pernah ditulis untuk menjadi sama dengan cerita orang lain.

Dengan semakin panjang sungai cerita kita mengalir, terkadang kita juga akan bertemu dengan sungai cerita yang lain. Tiba-tiba satu cerita datang bersebelahan dengan cerita kita, mendekat, semakin mendekat, bertambah dekat, lekat, dan akhirnya membaur menjadi satu cerita.

Disini juga asyiknya. Cerita kita menjadi berbeda, alurnya semakin menarik tak terduga. Apalagi cerita itu adalah cerita seseorang yang memang sudah kita harapkan untuk menjadi satu dengan cerita kita, hmmm.. sungguh sudah tidak tahu lagi apa yang dirasa. Indah.

Tapi ternyata tidak semua sungai yang bertemu akan terus mengalir berdampingan sampai akhir. Ada yang hanya sebentar. Ada yang datang membawa banyak cerita, lalu pergi meninggalkan cerita yang jauh lebih banyak daripada ketika ia datang. Ada yang pernah menjadi bagian paling ramai dari perjalanan kita, kemudian suatu hari hanya tinggal nama yang sesekali muncul ketika kita sedang mengingat masa lalu.

Dan mungkin memang begitu. Tidak semua orang yang datang harus tinggal. Tidak semua yang kita sayangi harus menjadi bagian sampai akhir cerita. Ada yang memang ditakdirkan untuk menemani perjalanan, ada pula yang hanya datang untuk memberikan satu bab yang ternyata begitu penting untuk membuat kita menjadi seperti hari ini.

Maka jangan terlalu membenci cerita yang akhirnya tidak sesuai dengan keinginanmu. Bukankah kamu sendiri yang pernah mengatakan bahwa setiap proses harus dirasakan dan dinikmati? Termasuk bagian yang sakit. Termasuk bagian yang tidak kita mengerti. Termasuk bagian ketika seseorang harus pergi.

Sebab cerita tetaplah cerita. Kita tidak bisa menghapus satu halaman hanya karena tidak menyukai isinya. Kalau halaman itu dihilangkan, mungkin kita tidak akan pernah menjadi tokoh yang sama seperti sekarang.

Namun seiring berjalannya waktu, sumber sungai ceritamu juga akan semakin lemah, perlahan berkurang intensitas cerita yang dihasilkanya. Sampai pada akhirnya, hanya akan menjadi genangan air biasa, tak mengalir. Ceritamu berhenti sampai disini.

Memang sungai ceritamu tidak ada lagi, namun sisa resapan airnya masih tetap ada, membekas. Hanya akan tersisa rekam jejak jalan yang kamu pernah lewati, terkenang abadi disetiap ingatan mereka yg pernah menghuni.

Dan mungkin itu yang paling indah dari sebuah cerita. Ia boleh selesai, tapi tidak selalu benar-benar hilang. Ada yang tersisa dalam ingatan. Ada yang tersisa dalam sebuah tempat. Ada yang tersisa dalam sebuah lagu, sebuah foto, sebuah percakapan, bahkan mungkin hanya sebuah nama yang tiba-tiba terlintas ketika kita sedang sendirian.

Kita pernah ada di sana. Pernah merasakan. Pernah tertawa. Pernah menangis. Pernah berjalan bersama. Lalu semuanya menjadi bagian dari cerita yang tidak bisa diulang kembali.

Tanpa sadar kita telah dijadikan budak waktu, dipaksa berjalan atau bahkan berlari untuk terus menghindar dari tebasan tajam mata pisaunya. Sebenarnya bukan sekedar tuntutan waktu, tapi tuntutan dari sang pemilik waktu. Dia yang berkuasa atas segala sesuatu. Melawan? Mana mungkin! Patuh dan pasrah kepada-Nya adalah jalan terbaik kita.

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu kapan sebuah cerita akan sampai pada halaman terakhirnya. Kita tidak tahu kapan sungai cerita itu akan berhenti mengalir. Kita juga tidak pernah tahu siapa yang akan datang, siapa yang akan tinggal, dan siapa yang nantinya hanya menjadi bagian dari cerita masa lalu.

Yang kita tahu, hari ini masih ada. Masih ada waktu untuk menulis. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki cerita. Masih ada kesempatan untuk meminta maaf, memaafkan, mencintai, berbuat baik, dan melakukan sesuatu yang mungkin kelak akan kita syukuri pernah dilakukan.

Kesiapan itu perlu, maka dibutuhkan persiapan. Kesadaran itu perlu, maka dibutuhkan penyadaran. Pun juga dengan keyakinan.

Sebab pada akhirnya, kita hanya sedang menulis sesuatu yang sebenarnya sudah Dia izinkan untuk kita jalani. Kita boleh berusaha menentukan bagaimana cerita itu berjalan. Boleh berharap alurnya indah. Boleh bermimpi tentang siapa saja yang ingin kita temui di dalamnya. Tapi untuk akhirnya seperti apa? Kita tidak pernah benar-benar punya kuasa.

Maka tulislah sebaik-baiknya. Jalani sebaik-baiknya. Rasakan setiap jengkal prosesnya. Sebab kita tidak pernah tahu, mungkin saja cerita yang hari ini terasa biasa, suatu hari nanti justru menjadi cerita yang paling ingin kita ingat.

Dan ketika akhirnya sungai cerita itu benar-benar berhenti mengalir, semoga pernah ada sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang membuat mereka yang pernah menghuni ceritamu tersenyum ketika mengingatnya.

Semoga.