Di postingan sebelumnya, saya cerita kalau saya salah. Saya pikir, semakin banyak fitur = semakin bagus. Ternyata Tidak.
Saya lalu mencoba memperbaiki itu. Saya mulai lebih banyak mendengarkan user. Mengumpulkan feedback. Mencatat semua masukan. “Mas, butuh fitur ini”, “Kalau bisa ditambah ini”, “Kenapa tidak ada ini?” Saya turuti satu per satu. Saya pikir, ini arah yang benar.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Fitur semakin banyak. Sistem semakin lengkap. Tapi, tidak semakin dipakai.
Ada yang terasa aneh. Di satu sisi, user bilang butuh banyak hal. Di sisi lain, yang benar-benar digunakan itu-itu saja.
Ada fitur yang sering diminta, tapi jarang sekali disentuh. Ada proses yang tidak pernah dikeluhkan, tapi diam-diam selalu membuat user berhenti di situ.
Di situ saya mulai sadar satu hal. User tidak selalu tahu apa yang mereka butuhkan. Tapi, perilaku mereka selalu jujur.
Di KelolaHR, ini jadi turning point buat saya. Kami mulai berhenti hanya “mendengar”. Dan mulai benar-benar “mengamati”. Bukan sekadar apa yang mereka bilang, tapi apa yang benar-benar mereka lakukan.
Sejak itu, saya pegang satu prinsip: “𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫 𝐮𝐬𝐞𝐫. 𝐀𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚.”
Semua pelajaran kecil dari perjalanan membangun KelolaHR ini selalu saya jadikan pengingat, bahwa tujuan akhirnya tetap sama: terus bermanfaat, dan melebarkan kebermanfaatan untuk lebih banyak orang.
Kalau teman-teman ingin mencoba, saya berikan akses ke semua fitur. Gratis. Cukup dicoba saja dulu. Dilihat apakah memang membantu atau belum 🙂
Lihat disini ya: KelolaHR