Kita yang berjalan, Dia yang Menyediakan Jalannya.

Kita yang berjalan, Dia yang Menyediakan Jalannya.

🎧 Putar melodi ini, mari berjalan perlahan menyusuri setiap kata.

“Mau apa? Lantas mau dibawa kemana hidupmu?” — sesederhana itu. Pertanyaan yang singkat. Tapi sebaliknya, yang selalu menjengkelkan adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan singkat itu. Selalu tidak ada yang sederhana dengan jawaban, meskipun hanya tentang penjumlahan satu ditambah satu.

Kita mengerti dengan baik bahwa setiap yang berawal pasti akan berakhir, paham sekali, sebab sekarang kita sedang berjalan diantara keduanya. Meskipun entah, sadar atau tidak bahwa kita sedang menjadi aktor dari pertunjukan besar itu. Semoga tidak baru tersadar ketika tulisan ini terbaca, ya.

Skenario sudah disiapkan olehNya. Setting cerita, waktu, tempat, tokoh, dan banyak hal lainnya juga demikian. Hanya saja, tetap kita sendiri yg menjalani. Iya, kita! Kita yang berjalan, Dia yang menyediakan jalannya.

Aneh memang, kita sering merasa sedang menentukan semuanya. Merasa sedang memilih jalan, menentukan arah, memutuskan siapa yang harus tinggal dan siapa yang harus pergi. Menyusun banyak rencana untuk hari esok, kemudian berharap semuanya berjalan persis seperti yang sudah kita pikirkan.

Padahal siapa yang tahu?

Besok bahkan belum tentu menjadi seperti apa yang kita bayangkan hari ini.

Kita bisa saja merencanakan pagi dengan begitu baik, tapi kemudian satu kabar datang dan semuanya berubah. Kita bisa saja begitu yakin dengan seseorang, tapi ternyata waktu punya cerita lain. Kita bisa begitu ingin tinggal di satu tempat, lalu keadaan memaksa kaki untuk pergi. Bahkan terkadang sesuatu yang paling kita inginkan justru menjadi sesuatu yang tidak pernah kita dapatkan.

Lalu kita kecewa. Marah. Bingung. Bertanya-tanya kenapa harus begini dan kenapa tidak begitu.

Padahal mungkin saja kita sedang lupa, bahwa sejak awal kita memang tidak pernah memegang seluruh kendali.

Kita hanya menjalani bagian kita.

Mau berjalan atau tidak, tetap ada jalan yang harus dilalui. Mau cepat atau lambat, waktu tetap bergerak. Mau siap atau belum, beberapa hal akan tetap datang pada waktunya.

Dan lucunya, kita sering baru menyadari semua itu setelah sesuatu terjadi. Setelah kehilangan. Setelah bertemu. Setelah gagal. Setelah berhasil. Setelah seseorang datang dan kemudian pergi. Baru kemudian kita menoleh ke belakang dan berkata, “Oh, ternyata harus seperti itu.”

Padahal saat sedang menjalaninya, kita tidak tahu apa-apa.

Kita hanya merasa sedang berjalan tanpa tahu kenapa harus melewati jalan yang itu. Tidak tahu kenapa harus bertemu orang-orang tertentu. Tidak tahu kenapa harus mengalami kejadian-kejadian yang kadang menyenangkan, kadang juga begitu menyebalkan.

Tapi bukankah memang begitu hidup?

Kita tidak pernah diberikan seluruh jawabannya di awal. Mungkin kalau semua sudah diberitahu sejak pertama kali kita mulai berjalan, tidak akan ada lagi yang namanya belajar. Tidak ada lagi rasa penasaran. Tidak ada lagi kejutan. Tidak ada lagi proses untuk mengerti kenapa sesuatu harus terjadi.

Kita hanya akan menjalani apa yang sudah diketahui, tanpa pernah benar-benar merasakan bagaimana rasanya mencari tahu.

Maka biarkan saja.

Kalau hari ini belum mengerti, mungkin nanti. Kalau hari ini masih bertanya-tanya, mungkin suatu hari akan ada jawabannya. Kalau hari ini jalan yang kita lewati terasa salah, mungkin kita hanya belum tahu kemana jalan itu sebenarnya membawa kita.

Sebab kita yang berjalan, Dia yang menyediakan jalannya.

Kita yang memilih untuk melangkah, tapi tidak pernah benar-benar tahu apa yang menunggu di depan sana. Dan mungkin, itu yang membuat hidup menjadi menarik. Kita tidak tahu siapa yang akan kita temui. Tidak tahu apa yang akan terjadi. Tidak tahu kapan sesuatu dimulai, dan tidak tahu kapan sesuatu harus berakhir.

Yang kita tahu, hari ini kita masih berjalan.

Maka berjalanlah.

Tidak perlu terlalu sibuk menebak-nebak bagaimana akhirnya. Tidak perlu juga terlalu takut dengan jalan yang belum pernah dilewati. Toh, bukankah sejak awal kita memang tidak pernah tahu?

Kita hanya punya satu bagian kecil dari seluruh cerita: hari ini.

Jalani saja.

Kalau nanti ternyata jalannya berbeda dari yang kita mau, mungkin memang bukan kita yang paling tahu. Kalau nanti ternyata sesuatu yang kita kira akhir justru menjadi awal dari sesuatu yang lain, mungkin memang begitu cara Dia bekerja. Dan kalau nanti kita menoleh ke belakang, mungkin kita akan tersenyum sendiri melihat betapa banyak hal yang dulu kita pikir tidak akan pernah kita lewati, ternyata sudah berhasil kita lewati.

Duh, hidup memang aneh.

Kita terus berjalan menuju sesuatu yang bahkan belum kita kenal, dengan keyakinan bahwa nanti semuanya akan sampai pada tempat yang seharusnya. Entah bagaimana. Entah kapan.

Tapi semoga, ketika waktunya tiba, kita sudah cukup siap untuk mengatakan:

“Oh, ternyata ini maksudnya.”