Menghadapi Krisis: Memilih Jujur Saat Produk Belum Sempurna

Menghadapi Krisis: Memilih Jujur Saat Produk Belum Sempurna

Ada satu periode di mana saya hampir berhenti membangun KelolaHR.

Server sering down. Klien yang ada mulai khawatir. Dan selama berbulan-bulan, tidak ada klien baru yang masuk sama sekali. Waktu itu rasanya seperti berjalan di tempat sambil menonton semuanya berpotensi runtuh.

Di titik itu, ada dua pilihan. Pertama: panik, lalu mulai menyalahkan timing, menyalahkan pasar, atau menyalahkan diri sendiri. Kedua: angkat telepon. Hubungi klien yang ada. Jujur.

Saya memilih yang kedua. Saya ceritakan kondisinya apa adanya. Masalah servernya. Progres perbaikannya. Timeline yang realistis. Tidak ada janji manis, tidak ada bahasa marketing. Yang terjadi justru mengejutkan saya. Mereka tidak pergi. Mereka malah membantu saya memahami masalah lebih dalam.

Dari situ saya belajar sesuatu yang sampai sekarang masih saya pegang: Kepercayaan tidak dibangun dari produk yang sempurna. Tapi dari komunikasi yang jujur saat produknya belum sempurna.

Beberapa waktu setelahnya, ada satu perusahaan besar yang memutuskan bergabung. Lebih dari 5.000 karyawan. Bukan karena KelolaHR sudah sempurna waktu itu. Tapi karena mereka adalah tipe perusahaan yang mau tumbuh bersama, bukan sekadar cari yang sudah jadi.

Kadang yang memenangkan klien bukan fiturmu. Tapi caramu menghadapi krisis.

Pernah ada di titik hampir menyerah dalam pekerjaan atau bisnismu? Apa yang akhirnya membuatmu tetap lanjut?

Kamu bisa melihat semuanya disini: KelolaHR