🎧 Putar melodi ini, mari berjalan perlahan menyusuri setiap kata.
Dari sini, dari ketinggian ini, 3339 meter di atas permukaan laut, aku tetap bisa melihatnya, melihatmu. Bahkan mataku bisa tersenyum lebih lebar saat sinar rindunya membias memenuhi kelopak mata. Saat itu aku sedang tersenyum, dihiasi siratan cahaya senja yang perlahan jatuh di langit di ujung sana.
Dari sini aku bisa melihatnya lebih lama dari biasanya, meski tetap satu yang tidak akan pernah bisa berubah; dia akan tetap pergi juga. Syukurku, dia hanya pergi sementara waktu saja. Pulang sejenak untuk besok kembali lagi, tetap berada pada tempatnya, masih sama bertahan dengan rindunya.
Dia selalu kokoh dalam sabar yang terbungkus rapi dengan keyakinan akan sesuatu yang baik suatu hari nanti. Keyakinan itu yang selalu ada, melekat pada kepala, seolah ada kamu yang berkata;
“Kalau tidak sekarang, mungkin nanti.”
Hahaa..
Senja kala itu aku tertawa pelan bersama khayalanku.
Perlahan-lahan tapi pasti. Semakin lama cahaya senja itu semakin menyurut, dan jauh di sebelah timur sana gelap malam sudah bersiap untuk mendekap.
Aku bisa membayangkan begitu lambatnya cahaya senja pulang, merangkak ke barat, lambat sekali, seolah masih ingin berlama-lama sebelum benar-benar pergi. Menunggu ada yang mendekap. Dan di sebelah timur sana begitu cepatnya malam menjemput. Berlari kencang, mungkin tidak lagi mengenal kata berlari, tapi loncat, loncat sejauh dan secepat yang dia bisa.
Ah, tapi sungguh!
Sayang sekali, belum juga sampai pada bayangannya, cahaya senja telah pergi menghilang. Lantas sekarang malam yang berdiri terpaku sendirian.
Kecewa.
Mengeluh kesal.
Aku bertanya-tanya,
“Setiap hari mereka seperti ini?”
“Lantas akan sampai kapan?”
“Apa mungkin sudah ketentuan?”
“Takdir alam, mereka tak akan pernah bisa bertemu? Saling mendekap satu sama lain?”
Aku diam.
Hening.
Hanya suara angin malam yang terdengar, terasa dingin. Saat itu gelap sempurna menyelimuti langit.
Malam sendiri.
Dan senja sudah pulang untuk besok berharap lagi.
Entah, ke mana kaki mengajaknya melangkah, menjauh, sangat jauh, hingga mata dan telinga tak lagi berarti apa-apa. Tapi ada. Ada mereka yang tetap selalu ingat dengan rindunya.
Mungkin memang begitu. Ada yang pergi, ada yang tinggal. Ada yang harus menunggu, ada yang harus pulang. Ada yang setiap hari hanya bisa melihat dari jauh, tanpa pernah benar-benar tahu apakah yang dirindukannya juga sedang mengingat hal yang sama.
Tapi bukankah begitu cara beberapa hal dalam hidup berjalan? Tidak semuanya harus segera bertemu. Tidak semua rindu harus segera terbalaskan. Tidak semua yang kita inginkan harus datang pada waktu yang kita mau.
Barangkali ada yang memang harus menunggu sedikit lebih lama. Barangkali ada yang harus pergi dulu, supaya tahu rasanya ingin pulang.
Dan barangkali, ada dua hal yang sejak awal memang tidak pernah ditakdirkan untuk bertemu pada waktu yang sama, tapi tetap saja saling menunggu di tempatnya masing-masing.
Seperti senja dan malam.
Setiap hari mereka datang bergantian. Setiap hari juga gagal bertemu. Tapi esok, mereka mencoba lagi.
Dan entah mengapa, dari ketinggian 3339 meter ini, aku jadi percaya bahwa mungkin tidak semua yang belum terjadi berarti tidak akan pernah terjadi.
Mungkin hanya belum.
Mungkin belum sekarang.
Mungkin nanti.
Semoga sama.