Sore - Hujan - Pamit

Sore - Hujan - Pamit

🎧 Putar melodi ini, mari berjalan perlahan menyusuri setiap kata.

“Aku akan pergi,” ucapmu tiba-tiba, suaramu lirih, hampir tenggelam dalam suara gerimis yang berdetak di kaca jendela.

Sore itu gerimis turun perlahan, membasahi jalanan di perempatan kotaku. Langit kelabu, awan-awan berat bergerak lambat. Kedai kopi kecil di sudut jalan terlihat redup, lampu neon yang menggantung di langit-langitnya berkedip-kedip, memancarkan cahaya kuning yang hangat. Aroma kopi menyeruak, bercampur dengan bau tanah basah yang menyegarkan. Suara tetesan air dari atap seng kedai menciptakan irama pelan, menemani kesunyian yang mulai merayap.

Kau duduk di meja dekat jendela, tangan menggenggam cangkir kopi yang sudah setengah dingin. Matamu menatap ke luar, mengikuti gerak-gerik orang yang berlalu-lalang dengan payung di tangan. Aku duduk di seberangmu, mencoba membaca ekspresimu yang sulit tertangkap. Ada sesuatu yang berbeda sore ini. Kau terlihat diam, tapi diam yang berbicara banyak.

Aku menatapmu, mencoba memahami kata-katamu. “Kemana?”

“Ke kota lain. Aku akan mengejar mimpiku,” jawabmu, matamu masih menatap ke luar, seolah takut bertemu dengan pandanganku.

Aku diam sejenak, mencerna kata-katamu. Hatiku berdegup kencang, tapi aku tak tahu harus berkata apa. Kau akan pergi. Kau akan pergi, dan aku tak tahu apakah aku siap untuk ini.

“Sudah lama aku menunggu kesempatan ini,” lanjutmu, suaramu lebih tegas sekarang. “Aku tak bisa menundanya lagi.”

Aku mengangguk pelan, mencoba tersenyum. Tapi senyumku terasa paksa, seperti topeng yang ingin kugunakan untuk menyembunyikan kegelisahan di dalam hati. Kau tak tahu, kan? Kau tak tahu bahwa selama ini, di balik semua obrolan ringan dan tawa kita, ada perasaan yang kusimpan rapat-rapat. Perasaan yang tak pernah kuungkap, karena aku takut merusak apa yang sudah kita bangun.

“Kapan kau berangkat?” tanyaku, mencoba menjaga suaraku agar tetap stabil.

“Besok pagi,” jawabmu singkat. Kau akhirnya menatapku, dan untuk pertama kalinya sore ini, aku melihat ada keraguan di matamu. Atau mungkin itu hanya bayangan dari cahaya lampu kedai yang redup.

“Cepat sekali,” gumamku, mencoba menahan gejolak di dada. “Aku… aku akan merindukanmu.”

Kau tersenyum kecil, tapi senyummu terasa jauh. “Aku juga akan merindukanmu. Tapi ini yang harus kulakukan. Aku harus mencoba.”

Aku mengangguk lagi, tak tahu harus berkata apa lagi. Kedai itu tiba-tiba terasa sangat sunyi, meski suara gerimis masih berdetak di luar. Aku ingin berkata banyak hal. Aku ingin memberitahumu bahwa selama ini, setiap kali kau tersenyum, hatiku bergetar. Aku ingin memberitahumu bahwa setiap kali kau bercerita tentang mimpimu, aku merasa bangga, tapi juga cemas. Cemas karena aku tahu, suatu hari nanti, kau akan pergi untuk mengejar semua itu.

Tapi aku diam. Aku hanya menatapmu, mencoba menikmati detik-detik terakhir ini. Detik-detik di mana kau masih di sini, masih duduk di seberangku, masih memegang cangkir kopi yang sama.

“Aku harap kau bahagia,” ucapku akhirnya, suaraku hampir seperti bisikan.

Kau menatapku lama, seolah mencoba membaca pikiranku. Tapi kau tak pernah benar-benar bisa membaca isi hatiku, bukan? Kau hanya tersenyum lagi, lalu berkata, “Aku juga berharap hal yang sama untukmu.”

Gerimis di luar semakin deras, tapi kedai itu tetap sunyi. Kau akhirnya berdiri, mengangkat tasmu yang sudah siap di samping kursi. Aku menatapmu, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.

“Sampai jumpa,” ucapmu, suaramu lembut.

“Sampai jumpa,” balasku, suaraku hampir tak terdengar.

Kau berbalik, melangkah menuju pintu. Aku menatap punggungmu, mencoba mengingat setiap detilnya. Kau membuka pintu, dan angin sore yang dingin menerpa wajahku. Sebelum kau benar-benar pergi, kau menoleh sekali lagi, tersenyum kecil.

Dan kemudian, kau pergi.

Aku duduk sendirian di kedai itu, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Gerimis di luar masih turun, tapi hatiku terasa lebih basah dari jalanan yang kau tinggalkan. Kau pergi untuk mengejar mimpimu, dan aku? Aku hanya bisa duduk di sini, mencoba mengumpulkan keberanian untuk melupakan perasaan yang tak pernah sempat kuungkap.