🎧 Putar melodi ini, mari berjalan perlahan menyusuri setiap kata.
Waktu terus berjalan, berlalu, lantas pergi meninggalkan. Sampai kapanpun tidak akan pernah peduli denganku — juga denganmu, malah kita yang harus terus memaksa untuk peduli dengannya. Detaknya yang terus setia mengisyaratkan, kita pun juga harus tetap berjalan, bahkan mungkin berlari untuk terus bisa berkawan dengannya.
Waktu tak terbatas? Iya benar, tapi bagaimana dengan waktuku dan waktumu? Sadar kan? Jalan kita terbentang begitu panjang, tapi tidak dengan waktu yang Dia berikan.
Kadang kita terlalu sibuk memikirkan tentang kapan. Kapan semuanya akan selesai, kapan sesuatu akan datang, kapan keadaan akan berubah, kapan kita akan sampai pada sesuatu yang sejak lama kita harapkan. Padahal waktu tidak pernah mau menunggu semua pertanyaan itu terjawab.
Ia terus berjalan.
Tidak peduli kita sudah siap atau belum.
Tidak peduli kita masih ingin tinggal sebentar di tempat yang sama, mengulang sesuatu yang sudah lewat, atau berharap sesuatu yang telah pergi bisa kembali lagi. Waktu tetap saja berjalan, berlalu, lantas pergi meninggalkan.
Dan kita?
Kita yang harus belajar mengikutinya.
Kita seolah masih berjalan dalam kabut tebal sekarang, mencari setitik harapan dibatasi waktu yang entah sampai kapan. Kita benar-benar tak punya kuasa dengan semua yang ada. Hanya bisa berusaha untuk kemudian kembali berharap dan pasrah.
Mungkin memang begitu.
Ada banyak hal yang ingin kita atur sendiri, tapi ternyata tidak semuanya bisa. Ada yang ingin kita percepat, tapi harus menunggu. Ada yang ingin kita tahan, tapi harus rela dilepaskan. Ada yang ingin kita tahu jawabannya sekarang, tapi entah kenapa jawabannya selalu datang belakangan.
Kita sering merasa sudah melakukan banyak hal, sudah berjalan cukup jauh, sudah berusaha sedemikian rupa, tapi tetap saja belum sampai pada apa yang kita inginkan.
Lantas mulai bertanya lagi.
Sampai kapan?
Sampai kapan harus seperti ini?
Sampai kapan harus menunggu?
Sampai kapan harus berjalan dalam ketidakpastian?
Padahal mungkin pertanyaan itu sendiri tidak akan pernah membuat waktu berhenti untuk memberikan jawabannya.
Maka teruslah berjalan.
Kalau belum mampu berlari, berjalan saja. Kalau belum mampu berjalan jauh, melangkahlah sedikit demi sedikit. Tidak perlu selalu tahu seberapa jauh lagi jalan yang harus ditempuh. Tidak perlu juga selalu tahu kapan tepatnya akan sampai.
Yang penting, jangan berhenti.
Pada akhirnya, yang pasti, sepenuhnya kita harus bangun lantas kemudian sadar. Jalan yang akan kita lalui begitu panjang, terjal dan curam. Namun, ketika kaki kita tetap melangkah, cepat atau lambat, pasti akan sampai pada di ujungnya.
Entah nanti kita akan menemukan apa.
Entah siapa yang masih bersama kita ketika sampai di sana.
Entah apakah tempat yang kita tuju akan sama seperti yang selama ini kita bayangkan.
Tidak apa-apa.
Sebab kita memang tidak pernah benar-benar punya kuasa untuk mengetahui semuanya.
Kita hanya punya sedikit kuasa atas apa yang bisa kita lakukan hari ini.
Berusaha.
Berjalan.
Berharap.
Lalu setelah semuanya dilakukan, belajar untuk kembali pasrah.
Karena waktu akan tetap berjalan.
Dan kita, mau tidak mau, harus terus berjalan bersamanya.